PTKI Salah Satu Pondasi Penguat Model Keberagamaan Islam di Indonesia

Mataram (Pinmas) — Indonesia adalah lumbung kekayaan dan khazanah Islam moderat, dengan praktik toleransi antar pemeluk agama yang kuat-kokoh. Praktik Islam di Indonesia kompatibel dengan demokrasi, hak asasi manusia, jender, lingkungan hidup, dan lain-lain. Indonesia merupakan kawasan yang relatif aman dari gangguan dan ancaman bernuansa konflik keagamaan yang menjadi sumber malapetaka dunia saat ini, terutama Timur Tengah.

“Salah satu pondasi penguat model keberagamaan Islam Indonesia seperti dipraktikkan umat Islam selama ini, selain ormas keagamaan dan pesantren, adalah perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI),” demikian penegasan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan amanah pada Wisuda Sarjana dan Pascasarjana IAIN Mataram di Mataram, Sabtu (06/08).

Menurut Menag, kajian Islam yang dilaksanakan di perguruan tinggi Islam sejak awal menunjukkan tingkat relevansi yang sangat tinggi dengan pembangunan agama dan pencitraan Islam yang ramah dan modern ke dunia internasional. “Inilah potensi yang perlu di-explore lebih jauh oleh kalangan akademisi IAIN sehingga menjadi daya ungkit dan posisi tawar yang menentukan, bukan ditentukan oleh pihak lain. Menjadi leader dalam aspek kajian Islam dunia, bukan follower. Siap menjadi imam, bukan makmum. Harus menjadi produsen ilmu, dan tidak puas sebagai konsumen,” terangnya.

Di hadapan civitas akademika dan ratusan wisudawan IAIN Mataram, Menag mengingatkan bahwa PTKI sebagai lembaga akademik sekaligus institusi keagamaan, posisinya sangat menentukan dalam kajian, studi, dan penelitian mendalam berkenaan dengan keagamaan yang modern, moderat, dan majemuk. Keberadaan PTKI pada basis-basis komunitas Muslim dengan segala variannya (Nahdlatul Wathan, NU, Muhammadiyah, Tarbiyah Islamiyah, dan lainnya), berada pada lingkungan sosiologis yang majemuk, dan keberadaanya sebagai asset pemerintah daerah juga menguntungkan karena dengan begitu perguruan tinggi Islam dapat menjadi “jaring pengaman sosial”atau “penyangga wilayah” sebagai penjaga moralitas, stabilitas, kerukunan dan harmoni sosial berlandaskan nilai-nilai agama.

“Kedudukan seperti ini akan memantapkan IAIN sebagai Meltingpot (tempat bertemunya berbagai varian sosial) yang diperhitungkan. Lagi-lagi jika potensi ini dikembangkan bukan tidak mungkin akan menjadi daya picu lembaga untuk terus maju dan berdaya saing,” pesan Menag.

Sejalan dengan itu, Menag berharap pengkajian Islam sebagai keunggulan PTKI dapat ditampilkan sehingga menjadi nilai keunggulan (competitive advantage) sekaligus daya tawar (comparative advantage) yang bisa bermanfaat kepada publik, bukan saja di tanah air tapi juga dunia internasional.

“Islam Indonesia memiliki khazanah yang amat kaya dan warna warni yang dapat dikembangkan sebagai wilayah kajian di IAIN. Kompetisi dengan perguruan tinggi lain dan kebutuhan pasar (market oriented) jangan sampai menafikan program-program dan kajian keislaman menjadi terabaikan,” pesannya.

“Saya percaya, dengan tingkat keberagamaan dan struktur sosial masyarakat Islam Indonesia seperti yang kita saksikan saat ini, kajian Islam akan terus mendapat tempat di hati masyarakat. Tinggal bagaimana kita secara kreatif menawarkan kajian-kajian yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman yang dinamis,” imbuhnya.

Kepada para wisudawan, Menag berpesan untuk menjaga kepercayaan masyarakat dengan menampilkan diri sebaik mungkin sebagai lulusan IAIN, menjaga prilaku sebagai sarjana, dan menampilkan karya-karya nyata di tengah masyarakat.

“Saya teringat sebuah ungkapan menarik, Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun yang berkah”. Dalam bahasa hikmah, KH. Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengungkapkan, “Jangan banyak mencari banyak, carilah berkah. Banyak bisa didapat dengan hanya meminta. Tapi memberi akan mendatangkan berkah,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Menag Lukman menandatangani prasasti Peresmian GedungPascasarjana IAIN Mataram. (khoirulhuda/mkd/mkd)

Posted in NEWS.